Kamis, 17 Maret 2011

Dalam Segala Situasi, Baca Alhamdulillah

Dalam suatu perjalanan, seorang Badui melihat seorang Muslim tengah melakukan shalat. Agaknya, Muslim itu benar-benar hanyut dalam ibadahnya. Dari wajah dan tingkah lakunya, kelihatan bahwa dalam shalatnya itu ia sudah tidak terikat dengan alam sekitarnya, selain tubuhnya. Adapun hati dan perasaannya, ada bersama Allah.

Badui kafir memperhatikan terus, dan tiba-tiba, orang tadi tak bisa lagi berdiri. Namun, shalatnya diteruskan juga sambil duduk. Ahli ibadah itu tampak lemah. Satu dari kedua tangannya pun telah layu dan tak bisa bergerak lagi. Wajahnya menyimpan tanda-tanda penyakit berat, sementara tubuhnya betul-betul kurus dan tidak berdaya.

Tetapi, begitu selesai dari shalatnya, ia bersuara keras-keras dengan penuh kegembiraan yang dalam. "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari bencana yang banyak menimpa orang-orang selain aku."

Tentu saja orang kafir itu heran sekali, lalu bertanya kepada si Muslim, "Aneh, saya lihat kau sangat sengsara, tetapi kau masih juga memuji Tuhan atas karunia-Nya, dan bencana apakah yang kau maksud, yang telah dikehendaki Tuhan atas dirimu?"

"Alhamdulillah," kata si Muslim, "Segala puji bagi Allah, karena Dia telah membiarkan lidahku tetap memuji-Nya, Alhamdulillah atas segala karunia-Nya, Alhamdulillah..."

"Tahukah kau, bahwa penyakit yang telah melumpuhkan tangan dan kakimu, akhirnya akan memakan lidahmu?" tanya si kafir.

Tapi, Muslim itu masih menjawab, "Kenapa saya harus merisaukan lidahku? Bukankah lidahku ini berbicara sekadar menyatakan apa yang ada dalam hati? Bila hatiku masih dapat memuji, bersyukur dan menyebut nama Tuhan, bukankah itu sudah cukup bagiku?"

"Dan kalau itu betul-betul terjadi, apalagi yang patut kau puji, kau syukuri, dan kau sebut-sebut nama Tuhan?" tanya si kafir.

Aku akan tetap memuji, mensyukuri dan menyebut nama-Nya. Karena, Dia telah menciptakan aku dari tiada, dengan segala rahmat dan belas kasih-Nya. Dia telah memberi aku makan sejak aku masih di dalam perut ibu, lalu aku dipelihara dan diberi rezeki sampai saat ini. Bahkan, sampai aku mati kelak, meski aku diwaktu itu sudah tak bisa disebut hidup lagi.
Segala puji bagi Allah atas segala karunia-Nya yang telah menciptakan aku dan memberiku rezeki sampai mati. Bila maut itu merupakan kehidupan lain kelanjutan dari kehidupan dunia yang fana ini, maka saya yakin karunia Tuhan akan tetap ada. Maka, pujiku kepada Allah pun akan tetap aku lakukan sampai sesudah mati sekalipun, sampai saat kebangkitan tiba, dan seterusnya. Bahkan, takkan ada habis-habisnya, selagi kehidupan sesudah kiamat tetap berlangsung."

"Itu benar, saudaraku...," orang kafir itu akhirnya mengakui. "Memang, segala puji bagi Allah, segenap rasa syukur patut dipanjatkan kepada-Nya, dan segala zikir dan sebutan, Dia juga yang memilikinya. Saksikanlah aku wahai saudaraku, bahwa aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah. Terimalah ke-Islamanku, Tuhanku, jadikanlah aku termasuk orang yang gemar memuji, bersyukur dan berzikir kepada-Mu."

(Kisah-kisah Teladan sepanjang sejarah Islam; Ir. Abdul Razaq Naufal; )

Minggu, 31 Oktober 2010

Hidup

Hidup itu tak dapat diterka
Kita tak pernah tahu mau jadi apa kita kelak
Kita tak pernah tahu apa yang kan terjadi esok
Hari ini kita tertawa gembira,
Bisa jadi esok kan menangis merana
Hari ini masih bersama-sama,
Siapa yang tahu esok semuanya tlah sirna
Siapa yang tahu esok tak pernah berubah

Hidup ini bak roda pedati yang berputar
Kadang diatas, kadang dibawah
Yang diatas sewaktu-waktu bisa jatuh kebawah
Yang dibawah sewaktu-waktu bisa naik keatas
Yang kaya sewaktu-waktu bisa jatuh miskin
Yang miskin sewaktu-waktu bisa jadi kaya
Entah sebab usaha atau hadiah pusaka

Hidup bisa juga seperti roda pedati yang terhenti tak pernah berputar
Yang diatas tetap berada diatas
Yang dibawah tak pernah beranjak keatas
Yang kaya tetap kaya karena usahanya
Yang miskin tak pernah menjadi kaya walaupun terus berusaha

Hidup memang penuh perjuangan
Ada yang berjuang untuk kemerdekaan
Ada yang berjuang untuk kejayaan
Ada yang berjuang untuk negara
Ada yang berjuang untuk keluarga
Ada yang berjuang untuk cinta
Ada pula yang berjuang untuk sekedar mempertahankan nyawa

Hidup memang penuh warna
Ada yang mengharu biru, ada pula yang kelabu
Ada yang sedih, ada pula yang gembira
Ada yang senang, ada pula yang susah
Kadang yang sedih bisa tertawa
Kadang yang senang bisa menjadi susah

Hidup itu romantika
susah senang, sedih atau gembira
nikmati sajalah.